BLOG IGO BERITA KINI PINDAH KE WAVIE-NEWS.TK

Saturday, February 21, 2015

Duo Bali Nine 'digantung' di ruangan bekas Imam Samudra

Duo Bali Nine 'digantung' di ruangan bekas Imam Samudra

Duo Bali Nine digantung di ruangan bekas Imam Samudra

Merdeka.com - Belum mengumumkan kapan eksekusi mati, tiba-tiba pemerintah sudah menyatakan bahwa hukuman mati jilid dua diundur. Entah diundur sampai kapan eksekusi mati yang direncanakan pada 11 warga negara asing termasuk duo 'Bali Nine' ini akan dilaksanakan oleh pemerintah.

Kejaksaan Agung, sebagai eksekutor, beralasan penundaan eksekusi agar semua proses hukum para terpidana sempurna. Jaksa Agung, HM Prasetyo menegaskan, sebenarnya pemerintah ingin melaksanakan eksekusi mati lebih cepat, tapi tetap semua proses harus dipersiapkan dengan matang.

"Kita sebenarnya minta lebih cepat lebih baik, tapikan semua aspek harus dipenuhi dulu, jangan sampai ada celah yang justru bisa buat kita salah," jelas Prasetyo, kepada wartawan, Jakarta, Jumat (20/2).

Kementerian Luar Negeri pun mengamini pendapat tersebut. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyatakan tidak ada kaitannya antara lobi Australia dengan penundaan eksekusi para terpidana mati, yang mayoritas warga asing.

"Tidak (karena tekanan Australia). Indonesia akan konsisten dengan kebijakannya," kata Retno saat ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (20/2).

Merdeka.com - Spekulasi bahwa penundaan eksekusi ini berkaitan dengan tekanan Australia sempat deras berembus kencang. Spekulasi ini muncul setelah Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Komunikasi dan Informasi, Husain Abdullah kemarin menyatakan pemerintah Negeri Kanguru mengapresiasi Wapres Jusuf Kalla atas mundurnya jadwal tembak mati duo Bali Nine.

"Pemerintah Australia menyampaikan terima kasih dan apresiasi karena pemerintah menunda hukuman mati," kata Husain. Sesuai jadwal awal, sebetulnya pekan ini dua penyelundup itu dipindah dari Lapas Kerobokan, Bali, ke Nusakambangan untuk ditembak regu Brimob.

Menlu mengatakan sikap keras Indonesia pada WNA yang menyelundupkan narkoba seharusnya dihargai negara lain, termasuk Australia. Sebab dengan demikian risiko jatuhnya korban obat-obatan terlarang di kawasan berkurang.

"Apa yang Indonesia lakukan (memerangi narkoba) tidak hanya untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia tapi juga untuk menyelamatkan dunia. Jadi apa yang kita lakukan akan berdampak terhadap dunia juga," kata Retno.

Yang jelas, duo 'Bali Nine' dan 9 orang terpidana mati lainnya masih sedikit bisa bernapas lega. Meski statusnya 'digantung' tanpa kejelasan, namun tentu ini memberi jeda sementara. Mereka tidak akan secepatnya menghadap regu tembak.


Merdeka.com - Khusus untuk duo 'Bali Nine' rencananya akan dipindahkan ke ruang isolasi di Lapas Batu Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Namun hingga kini Lapas Batu belum siap dan untuk sementara duo 'Bali Nine' itu ditempatkan ke ruang khusus di sel Tower, Lapas kelas II Kerobokan, Kuta Bali. Keduanya kini menghuni ruangan yang pernah ditempati terpidana mati kasus teroris Bom Bali I yang sudah dieksekusi, Imam Samudra.

Menurut Kalapas Kerobokan, Sudjonggo, ruang yang pernah ditempati Imam Samudra itu bukan ruang isolasi. Namun memang ruang khusus itu terpisah dari para napi narkoba lain. Saat ini terpidana narkotika itu nasibnya masih 'digantung'. Mereka menunggu eksekusi mati di ruangan khusus yang pernah ditempati terpidana teroris.


Merdeka.com - Permintaan peti jenazah yang cukup banyak ini, merupakan kali kedua yang diterima pihak GKJ. Setelah sebelumnya, ketika eksekusi mati gelombang pertama pada 18 Januari lalu, menerima permintaan penyediaan lima peti jenazah dari Polres Cilacap. Namun, lanjut Yosafat, jumlah permintaan saat itu tak bisa terpenuhi.

"Itu ruang khusus, ingat yah bukan berarti dikhususkan atau diistimewakan. Itu ruangan yang dikawal ketat, ada di bawah tower," ungkap Sudjonggo.

Soal pemindahan, dia mempertegas masih sedang menunggu kabar dari Lapas Batu Nusakambangan. "Pokoknya secepatnya. Jika Nusakambangan sudah siap segera kita pindahkan," katanya.

Sementara itu, meski eksekusi mati ditunda, pihak Gereja Kristen Jawa (GKJ) Cilacap sudah menerima pesanan pembuatan 10 peti mati yang berasal dari Kepolisian Resor (Polres) Cilacap. Peti mati itu diperuntukkan untuk para terpidana mati yang akan dieksekusi.

"Kami mendapat pesanan 10 peti jenazah dari Polres Cilacap," ujar pendeta GKJ, Yosafat kepada wartawan, Jumat (20/2).


Merdeka.com - Permintaan peti jenazah yang cukup banyak ini, merupakan kali kedua yang diterima pihak GKJ. Setelah sebelumnya, ketika eksekusi mati gelombang pertama pada 18 Januari lalu, menerima permintaan penyediaan lima peti jenazah dari Polres Cilacap. Namun, lanjut Yosafat, jumlah permintaan saat itu tak bisa terpenuhi.

"Permintaannya saat itu sangat mendadak, karena yang tersedia (peti jenazah) di gudang hanya 3 peti. Tetapi, untuk permintaan kali ini stok peti jenazah sudah siap semua," jelasnya.

Untuk permintaan peti jenazah tahap kedua, diakuinya, pihak Polres sudah memesan jauh hari sebelumnya. Permintaan pembuatan peti mati sudah diminta tak lama setelah eksekusi tahap pertama.

Hingga saat ini, peti mati yang tersedia di gudang GKJ baru tersedia enam buah peti. Ukuran peti mati tersebut diketahui berbeda beberapa di antaranya. Yakni, satu peti ukuran jumbo, dua peti ukuran kecil dan tiga lainnya ukuran sedang.

Meski begitu, pihaknya saat ini sedang dipersiapkan enam buah lagi dari sentra pembuatan peti mati di Yogyakarta. Sebab kapasitas gudang yang dimiliki GKJ hanya mampu menampung sembilan peti mati. "Sekarang stok sudah siap semua tinggal kebutuhannya berapa apakah 10 atau 11, kita sudah siap," jelasnya.

Sumber : http://www.merdeka.com

Link: http://adf.ly/13cI13
FFFFFF

Blog Archive